SMS

21 Sep

Tiga huruf di atas adalah kependekan dari Short Message System, sebuah teknologi baru yang ditawarkan oleh provider telepon selular bagi pelanggannya untuk mengirimkan pesan kepada sesama pengguna telepon selular. SMS memang memberikan beberapa kemudahan dan keuntungan. Misalnya, kita hanya membayar sekitar Rp 300,- sampai Rp 350,- saja. Selain keuntungan dan kemudahan yang ditawarkan, ternyata ada beberapa hal yang patut dicermati dan harus diantisipasi dari teknologi bernama SMS ini karena SMS adalah bentuk komunikasi tidak langsung, maka orang tidak dapat memastikan apakah pesan yang dikirim dapat dipahami dengan baik oleh si penerima pesan.

Dalam berkomunikasi ada istilah non verbal language seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, dan intonasi suara yang memperjelas komunikasi yang sedang kita lakukan. Empat hal yang disebut belakangan memang tidak dapat ditampilkan jika kita berkomunikasi via SMS. Seringkali kita tidak dapat memastikan intonasi suara macam apa dengan kalimat yang muncul di layar telepon selular kita, apakah tinggi, rendah, atau datar. Kita tidak dapat menebak seperti apa raut wajah si pengirim SMS ketika memijit-mijit tombol di telepon selularnya, apakah sedang senyum, marah, keheranan, atau tanpa ekspresi. Selanjutnya, kita juga tidak tahu apakah kalimat tanya dalam SMS adalah ungkapan ‘tidak tahu’ atau ‘memojokkan’. Kita tidak dapat menyimpulkan apakah pernyataan dalam SMS adalah sebuah pujian tulus, sindiran, atau ungkapan kekecewaan. Sebagai contoh, suatu ketika teman saya menerima SMS dari nomor yang dia kenal yang berbunyi : “Anggota DPR RI dapat tunjangan 10 juta. Bagaimana tuh ?” jelas Netty Prasetiyani selaku anggota Bidang Kewanitaan DPP PK Sejahtera. Langsung temannya menghubungi nomor tersebut dengan maksud akan menjelaskan hal tersebut. Sayang sekali meski nadanya tersambung yang punya nomor tersebut tidak mengangkatnya. Mungkin dia sedang sibuk (kita harus berhusnuzhon he… he…). Contoh lain adalah teman saya yang aleg dapat SMS dari nomor yang belum dikenal yang berbunyi : “PKS ternyata nafsu kekuasaannya masih tinggi. Sama dengan partai lain.” jelas Netty lagi. Ketika nomor itu dihubungi, orang tersebut tidak mengangkat teleponnya. Kalau 2 contoh di atas lebih politis, maka contoh berikut nuansanya lebih ekonomis. Kadang kita mendapat pesan SMS yang berbunyi : “Dalam rangka Ultah PT Indofood, kirimkan pesan ini kepada 10 orang yang lain maka secara otomatis pulsa anda akan bertambah 100 ribu.”

Berdasarkan contoh di atas, ada beberapa hal yang menarik untuk kita cermati. Pertama, SMS kadang membuat orang tidak gentle dan bertanggung jawab atas berita yang dikirimnya. Siapapun dapat mengirim SMS tanpa harus diketahui identitasnya karena untuk membeli voucher perdana harganya relatif murah. Boleh dibilang cara orang mengirim SMS tanpa identitas dan kemudian tidak bisa dihubungi adalah mirip dengan surat kaleng. Kedua, SMS seperti contoh-contoh di atas cenderung provokatif dan tidak mendidik orang untuk berpikir rasional. Beruntung jika yang dikirimi SMS adalah orang yang memahami masalah dan mempunyai jawaban, maka dia tidak perlu bingung. Namun, jika yang dikirimi SMS adalah orang yang tidak mengerti masalah, maka pengirim SMS tersebut sejatinya sedang menebar teror kebingungan dan benih keraguan. Ketiga, boleh jadi pengirim SMS adalah pihak yang ingin mengeruk keuntungan secara ekonomis. Contoh yang jelas adalah SMS Indofood. Penerima yang tergiur dengan iming-iming pulsa gratis akan langsung mem-forward isi pesan tersebut pada teman-temannya tanpa berusaha konfirmasi dulu ke PT Indofood.

Sebagai muslim dan aktivis dakwah, sudah seharusnya kita berhati-hati dengan teknologi SMS baik ketika mengirim maupun menerima pesan. Hendaknya pesan yang dikirim via SMS adalah pesan-pesan yang jelas, tidak menyisakan pertanyaan, tidak menimbulkan keraguan, dan tidak menyebabkan prasangka buruk. Buatlah SMS hanya untuk hal-hal yang pasti seperti : “Hari ini kita rapat di rumah mas Ryan pukul 8 pagi.” atau “Afwan, saya baru bisa ke rumah antum jam 4 sore.” Bagi penerima SMS, sebaiknya memeriksa pesan dengan teliti. Jika kita mengenal pengirimnya, maka sebaiknya kita bertanya apabila ada sesuatu yang kurang jelas. Jika pengirim pesan tidak kita kenal dan pesannya membuat kita ragu, maka sebaiknya kita bertanya kepada seseorang atau lembaga yang dapat memberi penjelasan tentang isi SMS dan jangan lantas terprovokasi. Satu hal yang dikhawatirkan jika kita mudah terhasut oleh SMS kaleng (meminjam istilah surat kaleng), kita akan terjerumus pada jurang perpecahan dan retaknya ukhuwah. Oleh karena itu, mari kita hidupkan budaya husnuzhon (baik sangka) dan tabayyun (konfirmasi) sebelum percaya pada SMS. (www.majalahsaksi.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: